Jejak Jeram Cibeurem Yang Terkenang

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem, itu berada di Gunung Gede Pangrango di kawasan Cianjur wilayah Cibodas.

Tempat wisata yang ada di Gunung Gede Pangrango bukan hanya Air Terjun Cibeurem, tapi masih banyak tempat wisata yang lain misal, Telaga Biru, Air Panas, Kandang Batu, Kandang Badak, Puncak Gunung Gede, dan masih banyak lagi tempat wisata yang lainnya.

Tapi yang sanggup kami kunjungi cuma dua tempat saja yaitu Air Terjun Cibeurem dan Telaga Biru.

Langsung saja kita masuk kecerita perjalanan Rihlah Santri Al-Amanah ke Air Terjun Cibeurem.

Pengajuan Proposal

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
maxmanroe.com

Pada tanggal 30 Desember 2016 kami telah menuntaskan ujian tahfidz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Amanah Cibubur Jakarta Timur, dan menyerupai biasa, sesudah ujian selesai pihak pondok memberi waktu 1 ahad untuk libur, supaya menenangkan hati dan pikiran sesudah berhari-hari memantapkan hafalan untuk di uji.

Waktu libur telah tiba, sesudah satu hari libur, ada masukan dari saya dan teman-teman, untuk supaya libur ini tidak hanya berdiam diri di lingkungan pondok saja, sesudah diadakan musyawarah semuanya sepakat bahwa kita harus mengadakan rihlah di suatu tempat.

Oya, bagi kau yang belum tau apa itu rihlah, mumgkin saya jelaskan dulu arti dari rihlah. Rihlah adalah kosa kata dari bahasa arab yang artinya jalan-jalan. Karena kita orang pondok, maka kosa kata rihlah sering kita pakai daripada kata jalan-jalan.

Banyak opsi atau masukan tempat wisata mana yang akan kita kunjungi, dari mulai Bandung, Ancol, Pantai Anyer, daki Gunung dan banyak lagi opsi lain yang kesudahannya kita sepakat bahwa Curug Cibeurem yang akan kita singgahi untuk rihlah setelah ujian tahfidz.

Pada malam harinya, saya dan Ust.Kurniawan (Ustadz akseptor setoran hafalan) eksklusif menghadap ke kepala pondok, untuk minta persetujuan bahwa kita mau mengadakan rihlah di Air Terjun Cibeurem, dan kesudahannya Ust. Muhammad Arifuddin (kepala pondok), menyetujui niatan kita.

Waktu Pembuatan Proposal

Ust. Arif juga memperlihatkan saran untuk kami supaya menciptakan proposal pengajuan dana ke donatur pondok, supaya di beri izin dan juga diberi embel-embel dana supaya dana yang kita keluarkan lebih ringan.

Setelah selesai dialog kami dengan kepala pondok, saya pun eksklusif menciptakan proposal pengajuan dana. Ditemani oleh Surohman (teman seperjuangan), di malam pergantian tahun kami berdua sibuk menciptakan proposal dihiasi bunyi kembang api yang menciptakan kami terganggu dengan ledakannya.

Waktu itu kami menciptakan proposal hingga larut malam, sekitar jam 01.00 WIB kami gres menuntaskan proposalnya. Kenapa kami bela-bela begadang hingga malam? Karena melihat waktu yang sempurna dan tidak ada waktu lagi selain malam itu.

Waktu Penyerahan Proposal

Pagi nanti Pak. Salmin (donatur pondok) akan mengisi kajian rutin 2 ahad sekali, untuk menembah wawasan kami. Di waktu itulah yang sempurna untuk kami mengajikan proposal permohonan, makanya kami bela menciptakan proposal hingga larut malam, supaya pagi nanti sudah siap diajukan.

Jam 06.00 WIB Pak. Salmin tiba dan eksklusif menuju masjid, bertanda siap memperlihatkan kami kajian. Kami pun bergegas kumpul ke masjid, siap untuk mendapatkan kajian yang akan di sampaikan oleh Pak. Salmin. Hampir 2 jam kami mendengarkan kajian, disusul dengan diskusi tanya jawab dan kesudahannya salam penutupan terucapkan.

Selesai kajian, saya pun eksklusif menghamiri Pak. Salmin dan menyerahkan proposal itu. Setelah dibaca kurang lebih 2 menit, kesudahannya proposal itu pun disetujui dan saya nanti malam disuruh tiba ke rumahnya untuk mengambil uang yang akan di berikan untuk rihlah kami.

Rasa besar hati dan rasa ingin tau berapa yang Pak. Salmin akan berikan, menghampiri perasaan saya dan kawan-kawan. Datang waktu malam, saya dan Surohman eksklusif beranjak pergi ke rumahnya, sesampai di rumahnya kami pun mengucap salam dan di sambut eksklusif oleh Pak. Salmin.

Kami dipersilahkan duduk, dengan waktu yang tidak lama, kesudahannya uang pun berpindah tangan ke kami. Ternyata uang yang kami terima kurang banyak dari apa yang kami butuhkan. Selepas dari rumah Pak. Salmin, kami merundingkan kembali perihal bagaimana cara untuk menanggulangi kekurangannya ini.

Setelah usang memusyawarahkan dari mana kita akan sanggup uang tambahan, kesudahannya ada jalan lain yaitu mengajukan proposal itu kembali ke Pak. Tanggon (TNI yang erat dengan kami), proposal di terima dan ia pun menyetujui proposal itu. Sejumlah uang kami terima untuk menambah kekurangan dana rihlah.

Panitia Rihlah

Sebelumnya saya akan sebutkan struktural kepanitiaan rihlah ini:

Ketua                 : Syar’i (Ibnu)

Wakil Ketua     : Surohman

Sekretaris         : Bahrul Ulum

Bendahara        : Abdul Aziz

Kesehatan        : M. Imam NS

Peserta Rihlah: Zakir, Masykur, Reza, Syarif, Riski, Husen, Syahrul, Shobri, dan Shidik.

Para Ustadz tidak ada yang sanggup ikut alasannya ialah ia semuanya mempunyai kesibukan masing-masing.

Waktu terus berjalan dan kami berkemas-kemas untuk berangkat ke Air Terjun Cibeurem.

Menuju Air Terjun Cibeurem

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang

Pada tanggal 04 Januari 2017 kami berangkat menuju Curug Cibeurem dengan rute perjalanan menuju Terminal Kp. Rambutan menggunakan bus antar kota jurusan Jakarta – Cianjur.

Malam asumsi pukul 23.00 WIB kami turun dari kendaraan beroda empat di simpang tiga wilayah Cianjur (saya lupa nama tempatnya) kira-kira jarak tempuh dari tempat itu ke Kaki Gunung Gede Pangrango 3 KM. Sehabis turun dari bus, kami eksklusif melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju Kaki Gunung Gede Pangrango.

Malam semakin larut, tenaga semakin terkuras, dan kami belum melakukan Sholat Isya, kesudahannya kami memutuskan untuk berhenti kesalah satu masjid warga untuk menunaikan Sholat Isya dan istirahat malam menunggu datangnya pagi.

Izin kepada RT setempat kami lakukan dan kami diizinkan untuk istirahat di masjid hingga menjelang pagi. Waktu Subuh hampir tiba, dan kami membangunkan satu sama lain untuk lekas menunaikan Sholat Subuh, hingga waktu Sholat Subuh, satu di antara kami eksklusif mengumandangkan adzan.

Berbincang Dengan Ketua RT Ds. Larahan

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
bincang sama RT Larahan

Setelah Sholat Subuh, hujan rintik-rintik turun membasahi bumi, dan kami memutuskan untuk tunggu sejenak hingga hujan berhenti turun. Di waktu penantian itu, kami sempatkan untuk berbincang-bincang dengan Pak RT setempat untuk menyambung tali silaturrahim dan tanya-tanya perihal tempat yang akan kami tuju.

Tidak usang kesudahannya hujan berhenti turun, dan kami eksklusif pamitan ke bapak RT bahwa kami mau melanjutkan perjalanan ke Curug Cibeurem. Ditengah-tengah perjalanan menuju riam cibeurem kami melewati pasar yang mana disitu banyak penjual banyak sekali makanan dan cindra mata lainnya dan salah satu yang kami temui ialah orang jual pedang.

Peduli Alam

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
Peduli Alam

Langkah demi langkah kami tapaki sambil membawa plastik hitam besar untuk menampung sampah yang kami dapatkan sepanjang perjalanan. Pungut sampah ialah salah satu agenda rihlah kami, bertujuan untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Akhirnya kami hingga kaki gunung, kami istirahat sejenak di dalam satu rumah makan untuk menghilangkan rasa capek sewaktu diperjalanan dan menyantap sarapan pagi.

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang

Daki Gunung Menuju Air Terjun Cibeurem

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
Gunung Gede Pangrango

Setelah tenaga kami pulih kembali dan perut pun sudah terisi, kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Cibeurem. Dengan jarak tempuh 2,8 KM dari kaki gunung dan kurang lebih membutuhkan waktu 1 jam kami hingga ke Air Terjun Cibeurem.

Tak mau membuang waktu lama, sesampainya kami dilokasi, kami segera mandi di telaga Air Terjun Cibeurem.

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
Air Terjun Cibeurem

Senang, capek, dingin, dan sakit terkena jatuhan air dari atas gunug kami rasakan disaat itu. Lama bermain air dan rasa senag sudah puas kami rasakan kesudahannya waktu Sholat Dzuhur hampir tiba dan kami bergegas kembali ke kaki gunung untuk melakukan Sholat Dzuhur dan melanjutkan perjalanan di tempat wisata yang lain.

Selesai Sholat, kami melanjutkan rihlah kami ke Taman Cibodas, dengan jarak tidak jauh dari kaki gunung dan tiket masuk Rp 9.000/orang kami hingga ke Kebun Raya Cibodas.

Kebun Raya Cibodas

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
wisatamu.com

Kebun Raya Cibodas mempunyai luas area sekitar 80 hektar, terdapat ribuan jenis tanaman, bunga dan pohon. Sesampainya masuk ke dalam kebun, kami mengalami kebingungan kira-kira mau kemana kita menuju? sesudah berdiskusi, Taman Sakura tujuan pertama kita.

Menuju Taman Sakura

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
mesriretha.blogspot.co.id

Menapaki jalan dengantenaga yang tersisa kesudahannya kami hingga ke Taman sakura. Tapi sesampainya di tempat, kami masim mencari-cari dimana Taman Sakura berada? Dan kami bertanya kepada orang yang berada didekat kami, selesai bertanya ternyata pohon di sekeliling kita berdiri itu ialah pohon Sakura.

Tapi sangat disayangkan Pohon sakura itu tidak berbunga, sehingga kita tidak sanggup menikmati keindahan Bunga Sakura.

Menuju Bunga Bangkai

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
lebongkab.go.id

Dengan perasaan hati kecewa kami menuju ke tempat lain untuk mengobati rasa kekecewaan ini. Akhirnya pilihan selanjutnya ialah mengunjungi Taman Bunga Bangkai, dengan perjalanan yang lumangyan jauh, kami hingga di tempat Bunga Bangkai Berada. Tengok kanan dan kiri, tidak ada gejala kami melihat Bunga Bangkai.

Kami bertanya lagi ke petugas setempat dan ternyata Bunga Bangkai yang kami cari tidak ada, katanya kini bukan musimnya Bunga Bangkai tumbuh. Dua kali kami mencicipi kekecewan alasannya ialah tempat yang kami tuju tidak sesuai keinginan.

Menuju Rumah Kaca

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
rezkiputera.blogspot.co.id

Berlanjut dengan tempat yang lain, kesudahannya kami memutuskan untuk mencoba berkunjung di Rumah Kaca. berharap tidak akan gagal lagi untuk ketiga kalinya. keliling-keliling di area cibodas, kesudahannya kami menemukan juga Rumah Kaca.

Setelah melihat Rumah Kaca, ternyata Rumah Kaca yang kami lihat tidak sesuai dengan apa yang kami bayangkan, pasalnya kami membayangkan Rumah Kaca itu rumah yang di mana struktur pembangunannya terbuat dari kaca. Ternyata yang kami liahat hanya sekumpulan jenis-jenis Kaktus yang berada di ruangan kaca.

Kami mencicipi kecewa untuk ketiga kalinya, dan dengan rasa kesal dan tenaga yang terkuras, kami beristirahat di taman terbuka erat dengan Rumah Kaca.

Santai menikmati indahnya alam terbuka nan hijau dan canda tawa kami lakukan untuk menenangkan hati yang gelisah ini.

Ketemu Orang Arab

Air Terjun Cibeurem atau di dalam penyebutan Bahasa Sunda ialah Curug Cibeurem Jejak Air Terjun Cibeurem yang Terkenang
Ketemu Orang Arab

Tidak usang sesudah kami beristirahat di taman itu, kami melihat 3 orang pria dari Negri Arab tiba melewati kami, dan kami pun sontak menghampiri mereka. berbincang-bincang dengan menggunakan Bahasa Arab dan canda tawa serta foto bersama, agresi kami mengundang perhatian banyak orang yang berada di sekitar taman.

Kami merasa bahagia dan waktu sudah terlalu sore, menuntut kami untuk kembali ketempat peristirahatan, sembari beristirahat dan berkemas-kemas untuk menunaikan Sholat Maghrib.

Kami kembali ke rumah makan dimana tadi pagi kami sarapan dan beristirahat. istirahat sejenak dan waktu Maghri telah tiba. Kami melakukan Sholat Maghrib dan menjama’ Sholat Isya di waktu Magrib.

Selesai sholat kami kembali ke rumah makan untuk makan malam dan sekitar pukul 22.00 WIB kami pulang kembali ke pondok pesanteren.

Cerita ini ialah kenangan terindah saya bersama teman-teman seperjuangan di Pondok Pesantren Al-Amanah Cibubur. Dan saya mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman semua dan juga para Ustadz serta tidak luput dari rasa terima kasih saya kepada Pak. Salmin (donatur pondok) dan Pak. Tanggon (tetangga yang baik hati).


Sumber https://ibnuasmara.com/